Sejarah singkat kehidupan Sang Penghafal Al-Qur’an pertama di Ponorogo

Dari gapuro reog Ngepos Mlilir yang merupakan pintu gerbang masuk kota reog Ponorogo dari arah utara kira-kira 12 km atau utara alon-alon kota Ponorogo sekitar 4 km tersebutlah sebuah perkampungan yang bernama Bedi masuk wilayah kecamatan Babadan. Di desa inilah dahulunya pernah berdiri sebuah Pondok Pesantren yang masyhur yang diasuh oleh KH. Ibrohim Ghozali.

gapuro ngepos wrn

Kala itu, nama Kiai Ibrohim sudah terkenal sampai ke daerah Jawa Tengah, terbukti santrinya bukan hanya berasal dari daerah Ponorogo atau Jawa Timur saja, melainkan juga ada yang dating dari daerah Jawa Tengah Kemasyhuran nama Kiai Ibrohim karena kedalaman ilmu agamanya disamping juga karena beliau seorang hafidh (hafal) Al-Qur’an. Konon, beliau termasuk ulama di Jawa yang pertama kali menulis Al-Qur’an dengan tangan. Selain Al-Qur’an, beliau juga menulis kitab-kitab kuno yang lain, seperti kitab Sullamut Taufiq, Fatkhul Qarib dll.

7 Tahun Belajar Di Makkah

Dalam babad sejarahnya, KH. Ibrohim adalah putra KH. Ghozali (makamnya di belakang Masjid Cokromenggalan Ponorogo). Kiai Ghozali putra Kiai Nawawi Majasem, putra Kiai Nuruddin, putra Kiai Khotib Anom Kalangbret Tulungagung, putra Kiai Anom Besari Caruban Madiun putra Prabu Sasmito (Panembahan Firi ke VI Gresik).

Menurut data yang dicatat anak keturunannya, Kiai Ghozali Cokromenggalan lahir pada tahun 1785 M. Beliau menikah ketika berusia 29 tahun. Setahun kemudian (1812) beliau dikaruniai seorang anak yang montok. Anak yang lahir dengan kelamin laki-laki itu oleh Abahnya diberi nama Ibrohim, tentunya tafa’ul dengan mBah Kanjeng Nabi Ibrohim ‘alaihis salam, agar kelak setelah dewasa menjadi orang yang kuat imannya, yang menyebarkan agama tauhid Allah, yang menjadi panutan orang-orang yang bertakwa, lil muttaqiina imaama. Kemudian disusul kelahiran anak-anaknya yang lain yang jumlahnya 17 orang dari tiga orang istri. Sedangkan Kiai Ibrohim lahir dari rahim istri pertama.

Istri-istri Kiai Ghozali itu tidak satu masa, artinya Kiai Ghozali tidak pernah memadu (jw : wayuh) istrinya. Tetapi beliau menikah dengan istri kedua setelah istri pertamanya wafat, begitu juga ketika menikah dengan istri ketiga setelah istri kedua beliau wafat. Bahkan jarak antara wafat istri ke dua dengan istri ketiga agak jauh.

Menurut H. Muhyiddin Isnyoto, ketika KH. Ghozali menikah dengan istri ketiga yang merupakan putri dari Tumenggung Barotonegoro Babadan Ponorogo, usia beliau sudah sepuh, waktu itu beliau sudah punya putra delapan (8), dan istrinya merupakan janda kembang berputra satu.
DSC_0118

Bagaimana ceritanya orang yang sudah sepuh bisa menikah dengan anaknya seorang tumenggung ? Kata Pak Nyoto (panggilan H.Muhyiddin Isnyoto) menirukan cerita dari Kiai Mujab Thohir (juga Bani Ghozali), waktu itu Ponorogo merupakan daerah kekuasaan kerajaan Solo. Ketika Senopati mengadakan kunjungan ke Temenggungan Babadan, Senopati itu tertarik dengan putri Tumenggung Brotonegoro yang sedang menjanda, namun Tumenggung Brotonegoro keberatan anaknya dijadikan selir oleh Senopati yang menurut menurut cerita sudah punya banyak selir. Walaupun Senopati itu merupakan pejabat tinggi, namun Tumenggung Brotonegoro tidak ingin anaknya dijadikan selir. Karena usahanya tidak berhasil, Senopati itu kemudian mendekati Tumenggung Somoroto yang kebetulan ada ketidakcocokan dengan Tumenggung Brotonegoro. Maka, diaturlah siasat memfitnah Tumenggung Brotonegoro ke Raja Solo, dilaporkan, bahwa Tumenggung Brotonegoro mbalelo. Mendapat laporan ini, Raja Solo nimbali Tumenggung Brotonegoro agar menghadap. Karena takut akan terjadi apa-apa, “jangan-jangan sesampainya di Solo saya nanti langsung di krangkeng” pikir Tumenggung. Maka, Tumenggung Brotonegoro minta bantuan KH. Ghozali untuk menghadap ke Solo. Kiai Ghozali memberi waktu satu bulan. Dalam waktu itu, diam-diam Raja Solo mengirim telik sandi (intel) pribadi agar menyelidiki ke Babadan Ponorogo. Hasil investigasi teliksandi khusus itu, tidak diperoleh bukti-bukti bahwa Tumenggung Brotonegoro akan mbalelo.Telik sandi itu tidak melihat adanya pelatihan perang para prajurit yang didapatkan hanyalah latihan pencak silat biasa. Dan ketika ditanyakan kepada penduduk desa, mereka rata-rata menjawab tidak ada apa-apa.

Kemudian Raja Solo mengirimkan utusan untuk memanggil Tumenggung Brotonegoro dan mengatakan bahwa Tumenggung tidak akan dikrangkeng (ditangkap) dan utusan itu siap menjadi jaminan. Karena Tumenggung itu telah selamat dari ancaman penjara, maka putrinya yang sudah janda dan punya anak satu itu diserahkan kepada Kiai Ghozali untuk dijadikan istrinya.

Setiap hari Ibrohim kecil belajar membaca dan memulis Al-Qur’an serta kitab kuning pada abahnya sendiri. Setelah usia remaja Ibrohim dipondokkan di Pesantren TEGALSARI Ponorogo ( 8 km selatan kota Ponorogo) yang kala itu diasuh Kiai Kanjeng Bagus Hasan Besari. Diantara santrinya saat itu adalah Raden Ngabai Ronggowarsito, pujangga keraton Solo yang terkenal itu.

Konon, sepulang dari Tegalsari Ibrohim agak memadai ilmunya, sehingga oleh bapaknya ditugaskan membantu mengajar di Cokromenggalan . Setelah usianya semakin dewasa, oleh bapaknya, Ibrohim dijodohkan dengan santrinya sendiri yang bernama Nyai Sujinah. Santri putri ini terkenal sangat rajin, tawadlu’ dan manut dalam berkhidmah kepada kiainya. Oleh karenanya, Kiai Ghozali langsung mengambil sebagai menantu, yang kemudian dari pernikahannya dengan Kiai Ibrohim menurunkan 6 anak ; Roisah, Zainab, Marjiyah, Ridlwan, Sujinah dan Syarifah.

Sekitar tahun 1870 Kiai Ibrohim menunaikan rukun Islam kelima ibadah haji berangkat ke tanah suci Makkah al-mukarromah tanpa disertai istrinya. Saat itu, perjalanan Ibadah Haji ke Makkah menggunakan kapal layar melalui pelabuhan Tanjung Perak Ujung Surabaya dan hanya itulah satu-satunya alat transportasi yang ada saat itu yang ditongkangi orang-orang Madura. Pemberangkatan itu tepat setahun sebelum masuk bulan Dzul Hijjah berikutnya.

Di samodra raya kapal layar harus berjalan zig zag, belok sana belok sini menyesuaikan arus angin yang berhembus. Terkadang kapal layar harus berhenti di tengah lautan luas karena tidak ada angin. Disamping juga keadaan kapal yang sudah tua, seringkali bocor disana sini, sehingga kadang-kadang harus menguras air yang masuk ke dalam kapal agar tidak tenggelam. Hal ini dilakukan secara bergantian diantara para penumpang.

Rombongan pelayaran ke kota tertua di dunia (Makkah) ini diikuti oleh 50 jama’ah calon haji, masing-masing membawa perbekalan konsumsi sendiri-sendiri untuk dimasak di atas kapal.Ternyata pelayaran antara Surabaya – Jeddah (kota pelabuhan di Saudi Arabia) memakan waktu itu memakan waktu 7 bulan, jadi sekitar bulan Jumadil Akhir Kiai Ibrohim menginjakkan kakinya di bumi minyak tersebut.

Setelah sampai di kota yang menurut hadits Nabi tidak akan di ambah Dajjal ini dan telah selesai menunaikan semua rukun ibadah haji, Kiai Ibrohim tidak langsung pulang. Kiai Ibrohim menggunakan kesempatan, mumpung berada di kota suci kelahiran agama Islam, beliau ingin mengaji, menimba ilmu agama sebanyak-banyaknya dari ulama tanah suci yang masyhur. Hingga tak terasa beliau mondok di Makkah selama 7 tahun sesuai dengan lama perjalanan dari Surabaya ke Jeddah, 7 bulan.

Menurut catatan, di Makkah Kiai Ibrohim sempat memperdalam Tafsir, al-Qur’an, Al-Hadits dan Ilmu Fiqih Madzhab Imam Syafi’i. Bahkan sempat menghafal Al-Qur’an yang merupakan cita-cita langka di tanah Jawa saat itu. Karena, memang, di tanah Jawa saat itu belum adanya guru yang membimbing menghafal Al-Qur’an. Sezaman dengan Kiai Ibrohim, orang Indonesia yang belajar di Makkah banyak yang menjadi ulama besar; seperti Syekh Ahmad Khotib (Minangkabau), Ustadz Basuni Imron (Brunei), Syekh Muhammad Nawawi (Banten), Syekh Mahfudh (Termas Pacitan Jawa Timur), KH. Syamsul Arifin (ayah KHR. As’ad Situbondo Jatim).

Juga sempat belajar ilmu tulis menulis yang indah, khoth dan kaligrafi. Kiai Ibrohim ketika nyantri di Tegalsari termasuk santri yang rajin menulis. Banyak sekali kitab-kitab peninggalannya yang sekarang masih ada. Walaupun tulisannya tidak bisa dibilang bagus tetapi rapi dan mudah dibaca. Setelah belajar khoth dan kaligrafi tulisan Kiai Ibrohim sangat bagus kalau tidak bisa dikatakan luar biasa. Bandingkan kedua kitab tulisan tangan Kiai Ibrohim dibawah ini. Sebelah kiri Kitab Al-Qur’an tulisan tangan KH Ibrohim dan sebelah kanan kitab tulisan beliau ketika nyantri di Tegalsari.

kitab mbah brahim

Setelah 7 tahun menuntut ilmu di negara Hijaz, KH. Ibrohim pulang ke tanah air. Kedatangannya disambut dengan suka cita oleh seluruh keluarga, para santri dan juga masyarakat Ponorogo. Apalagi setelah mendapati putranya hafal Al-Qur’an kebanggan Kiai Ghozali sangatlah besar, karena dialah yang diharapkan menggantikannya mengasuh pesantren. Menurut sumber yang dapat di percaya (KH. Husen patihan Ponorogo), Kiai Ghozali adalah seorang ulama yang hafal Al-Qur’an bahkan qira’ah sab’ah.

Tapi Kiai Ibrohim lebih bersikap tawadlu’ kepada ayahnya. Ia enggan menggantikan ayahnya selama beliau masih hidup, begitulah jawaban Kiai Ibrohim ketika disuruh menggantikan ayahnya mengasuh pesantren.

Oleh karenanya, agar Ibrohim juga ikut berperan aktif dalam pengembangan agama Islam, Kiai Ghozali memberinya tanah kosong untuk didirikan sebuah pesantren dan masjid. Tanah tersebut terletak di desa Bedi sebelah utara Cokromenggalan kira-kira 5 km arah menuju Lembehan Magetan. Semua petunjuk dan arahan ayahnya dilaksanakan dengan betul-betul. Mula pertama yang dibangun adalah pondok-pondokan yang terbuat dari bambo dan berlantaikan tanah, juga membangun sebuah masjid yang sangat sederhana terbuat dari bambo berlantaikan batu bata tanpa plesteran.

Lama kelamaan santri yang berdatangan untuk ngangsu kaweruh ilmu agama kepada Kiai Ibrohim semakin banyak, terutama tertarik dengan kehafalan Al-Qur’an beliau. Santri-santrinya banyak yang berdatangan dari daerah Jogya sampai Banyuwangi dan daerah sekitarnya untuk menghafal Al-Qur’an, disamping mengaji kitab yang lain.

Harga Sebuah Al-Qur’an

Kitab suci Al-Qur’an di tanah Jawa pada masa Kiai Ibrohim masih langka dipunyai orang. Adanya baru di Keraton Solo, Kesultanan Demak atau Pondok Pesantren–pondok pesantren tua lainnya. Itupun cuma sedikit. Hal ini karena teknologi saat itu belum memungkinkan untuk mencetak Al-Qur’an. Kertas sebagai bahan baku buku masih sesuatu yang asing. Apalagi mesin cetak. Kondisi demikian ini sangat memprihatinkan KH Ibrohim sebagai orang yang hafal Al-Qur’an.

Alqur'an tulisan Kiai IbrahimAlqur’an tulisan Kiai Ibrahim

Mohamad Nor Ichwan (suami Khuliyatur Rofi’ah / 3.1.1.2.3) dalam buku Belajar Al-Qur’an terbitan RaSAIL Semarang (2005) menukil penadapat Dr. Subhu Sholih mengatakan : Al-Qur’an untuk pertama kalinya dicetak di Bunduqiyah (Venesia Italia) pada tahun 1530 M, namun ketika mushhaf cetakan itu muncul, kekuasaan gereja segera mengeluarkan perintah untuk membasminya. Kemudian pada tahun 1694 M. Hinkelman mencetak mushhaf di kota Hamburg (Jerman Barat, pen.). Beberapa tahun kemudian, tahun 1698 Marraci juga mengikuti jejak Hinkelman , dengan mencetak mushhaf di kota Padoue, Italia Utara. Hal ini patut disayangkan, karena tidak ada satupun dari mushhaf tersebut sampai ke tangan orang Islam. Baru kemudian pada tahun 1787 M berdiri percetakan Islam yang didirikan oleh Maulaya Utsman di kota Saint Petersbourg Rusia, demikian juga di Qazan, berdiri percetakan serupa. Kemudian di Iran terbit dua mushhaf, sebuah dicetak di Teheran tahun 1248 H/1828 M, dan yang satunya di Tibris pada tahun 1248 H/1833 M. Setelah itupada tahun 1834 M, Flugel mendirikan percetakan khusus untuk mencetak mushhaf di Leipzig.

Dan tak lama kemudian di Kairo muncul mushaf dalam bentuknya yang kecil, indah dan sangat halus, yang di cetak dan diterbitkan pada tahun 1342 H/1932 M di bawah pengawasan Syeikh al-Azhar, dan diakui serta disahkan oleh sebuah panitia khusus yang dibentuk oleh Raja Fuad I. Mushaf tersebut ditulis dan disusun sesuai dengan riwayat Hafs mengenai qira’at ‘Ashim.

Di Pesantren Cokromenggalan hanya ada satu kitab suci Al-Qur’an yaitu milik Kiai Gho-zali. Demikian ju-ga di Bedi juga Cuma ada satu milik Kiai Ibrohim oleh-oleh ketika pulang dari tanah suci Makkah, yang digunakan untuk me-ngajari para santrinya belajar Al-Qur’an. Dengan kepandaiannya menulis huruf Arab yang indah, Kiai Ibrohim berusaha memperbanyak jumlah Al-Qur’an untuk digunakan belajar para santrinya. Kemudian dengan kepandaiannya menulis huruf Arab yang indah beliau memulai menulis Al-Qur’an.

Pada awalnya dalam menulis Al-Qur’an sebanyak 30 juz itu, Kiai Ibrohim baru bisa merampungkannya dalam waktu setahun. Hal ini disebabkan beliau menulis Al-Qur’an dikerjakan secara sambilan, yaitu setelah selesai mengajar santri-santrinya. Ternyata hasilnya sangat bagus dengan tulisan gaya Naskh besar-besar untuk memudahkan menyimak. Di permulaan surat diberi hiasan ornamen yang sangat indah, bahkan dipinggir ada catatan bacaan suatu lafadh menurut beberapa imam. Al-Qur’an tulisan pertama itu menarik perhatian para santri, dan tentunya mereka ingin memilikinya.

Ternyata betul ada seorang santri yang tertarik ingin memiliki Mushhaf Al-Qur’an, dengan memberanikan diri santri tersebut matur kepada KH. Ibrohim agar dituliskan Al-Qur’an 30 juz dengan imbalan 2 ekor sapi. Tetapi Kiai Ibrohim tidak mau mengabulkan permintaan tersebut sehubungan dengan kesibukannya mengasuh pesantren. Santri tersebut tidak kurang akal, dengan memohon terus menerus dan juga disertai orang tuanya, akhirnya pesanan tersebut disanggupinya asal mau sabar. Akhirnya dalam waktu enam bulan tulisan Al-Qur’an 30 juz itu bisa diselesaikannya sesuai dengan yang diharapkan santri yang memesan tersebut. Menurut penuturan almarhum mbah Kiai Agus Damanhuri, bahwa Kiai Ibrohim dalam menulis Al-Qur’an dilakukan tengah malam setelah melakukan shalat hajat, dengan menggunakan pen tutul sodo aren dan tinta bak (tinta cina). Sebagaimana yang telah dijanjikan, sebagai upahnya Kiai Ibrohim mendapat 2 ekor sapi, yang kemudian sapi itu dijual untuk biaya pembangunan pesantren, padasan (tempat wudlu’), gotha’an (asrama santri) dan perbaikan masjid.

Ketekuan dan ketrampilan Kiai Ibrohim dalam menulis Al-Qur’an itu terdengar sampai kemana-mana, terbukti ada orang Banyuwangi dan Kedu memesan Al-Qur’an. Untuk menulis sebuah Al-Qur’an ada yang berani membayar Rp. 50,- (lima puluh rupiah) yang kala itu harga seekor sapi Rp. 10,- (sepuluh rupiah ). Berarti harga sebuah kitab suci Al-Qur’an sekitar 35 juta rupiah. Fantastis !

Dibawah ini Al-Qur’an Tulisan Tangan Mbah KH Ibrohim, yang ditulis dengan gaya nask,

penuh dengan ornamen yang sangat indah

alqu'an yang indah, tulisan tangan kh. ibrahimalqu’an yang indah, tulisan tangan kh. ibrahim

Dan menurut sebagian cerita KH Ibrohim telah berhasil menulis sebanyak 11 buah kitab suci Al-Qur’an yang dipesan orang dan beberapa buah yang diwariskan kepada anak cucunya. Ada khabar bahwa salah satu kitab suci Al-Qur’an tulisan beliau ada di Masjid Bedi, namun ketika penulis menelurusi ke Masjid Bedi (tahun 2006), Al-Qur’an tersebut sudah tidak ada. Sebelum menulis Al-Qur’an, mbah Kiai Ibrohim juga pernah menulis kitab-kitab salaf / kuning, yang menjadi kajian pokok pondok-pondok pesantren, ketika beliau masih nyantri di Tegalsari; seperti Kitab-kitab Fiqh, kitab Tauhid, bahkan kitab yang berisi aurod dan rajah. Seluruhnya masih ada dokumennya cuma tercecer dimana-mana. Diantaranya disimpan oleh salah seorang canggahnya bernama K.Mohammad Kholil ( 6.5.3.2).

Burungpun disayang

Sebagai layaknya orang Ponorogo asli, potongan tubuh Kiai Ibrohim relatif pendek, gempal dan sedang. Kulitnya sawo matang, kumis panjang. Walaupun sebagai seorang kiai, kesehariannya Kiai Ibrohim memakai igal tetapi tetap menyandang serban. Bahkan kadang-kadang memakai busana gulon dengan tak lupa menyelipkan ronce jam tangan disakunya. Sebagai orang alim yang berilmu tinggi beliau tidak warokan, bahkan Kiai Ibrohim terkenal sebagai orang yang wira’i dan sabar. Saking sabarnya, jika ada ayam memakan padi yang dijemurnya tidak pernah diusik. “kasihan”, katnya. Manusia sudah terlalu banyak diberi rahmat oleh Allah swt. Bahkan jika sedang berjalan kemudian ada burung berte-ngger di dahan dan pepohonan, Kiai Ibrohim menghentikan langkahnya, menunggu samapi burung-burung itu terbang sendirinya, tanpa merasa terganggu olehnya.

Santri-santri Pondok Pesantren Bedi (belum diketa-hui tentang nama pesantren-nnya) kondang dengan sifat brawokan dan “nakal-nakal”. Pada suatu hari, Kiai Ibrohim menyuruh para santri meng-ikuti ro’an (istilah pondok pe-santren menyebut kerja bakti) memotong bamboo di desa Bakalan (sebelah utara desa Bedi) kemudian diusung rame-rame ke Bedi. Ro’an itu melibatkan ratusan santri. Karena suka ria, di sepanjang perjalanan mereka berteriak-teriak, sehingga mengganggu kelancaran lalu lintas. (jalan yang dilalui ini adalah jalan raya menuju kota Sarangan Magetan). Kebetulan saat itu pula lewat Adipati Ponorogo, yaitu Tumenggung Cokronegoro yang akan inspeksi ke daerah-daerah disertai keluarganya.

Ketika rombongan adipati yang menggunakan kereta bendi itu berpapasan dengan para santri yang sedang mengusung pohon bamboo, mereka sempat diolok-olok dan digojlok. Mereka tidak mengerti bahwa yang diolok-olok adalah Adipati Tumenggung Cokronegoro, orang yang paling berkuasa di tlatah Ponorogo.

Selang sepekan setelah kejadian itu, Kiai Ibrohim kermudian dimintai keterangan perihal sikap para santri terhadap adipati. Dengan serta merta Kiai Ibrohim memintakan maaf atas kelakukan santri-santrinya. Untungnya Adipati Ponorogo itu seorang tumenggung yang muslim. Adipati Cokronegoro adalah putra dari Kanjeng Kiai Hasan Besari Tegalsari, ayahnya Cokroamiseno, kakaknya H.O.S Cokroaminoto (Majalah Pustaka ITB No. 6 Juli 1978), jadi mudah mengampuni perlakuan masyarakat.

Kiai Ibrohim wafat pada bulan Jumadal Ula tahun 1917 dalam usian 105 tahun. Beliau meninggalkan seorang istri dan enam anak.