Dalam kehidupan ini, berlaku hukum yang tiada duanya dan pasti akan kebenarannya. Yaitu hukum yang datang dari langit (dibaca: Hukum dari Tuhan). Salah satunya adalah: jika kita memberi, maka kita akan menerima. Apapun, siapapun, kapan pun. Ada menerima dalam kurun waktu yang pendek, ada juga yang menerima dalam kurun waktu panjang. Ada yang menerima sesuatu sama dengan yang diingini, ada pula yang menerima berbeda dengan keinginannya.

Ambil contoh seperti ini. Saat berada dalam sebuah perjalanan, kita tiba di sebuah pintu tol. Suasana terik ibu kota biasanya sangat terasa saat jam beranjak sekitar setengah dua belas siang. Antrean cukup panjang. Banyak yang merasa gelisah dan depresif ringan dengan keadaan itu. Walau sebenarnya sudah cukup sering mengalaminya.

Kita dalam kondisi yang tidak jauh berbeda. Yah, bisa jadi AC mobil kita lebih baik dari mobil lain d isekitar. Namun bukan suhu panas yang membuat gerah, melainkan panjangnya antrean, waktu yang tersita, dan lain-lain sehingga kita menjadi merasa “kepanasan”.

Lalu, kita mencoba mencoba buka jendela untuk menghirup udara di luar. Baru terbuka setengahnya, tiba-tiba saat menatap ke arah kanan, kita bertatap pandangan sesaat dengan seorang pengemudi dengan kaca jendela yang terbuka. Dengan ramah sekali, ia menyunggingkan senyum kepada kita. Apa yang kita lakukan jika terjadi hal itu?

Tentunya, kita akan membalas senyuman itu. Tapi bisa saja, ada seseorang yang pernah melakukan, langsung menutup jendela mobil dengan tergesa dan menoleh dengan ke arah lain dengan cepat. Atau bahasa kasarnya, “membuang muka”.

Dalam hal di atas, kedua orang di atas, bisa dibilang “sama-sama menerima” (walaupun ada balasan yang tidak diharapkan). Karena dalam hukum memberi dan menerima, kita tidak harus selalu menerima sama dengan yang diharapkan. Menurut saya, apapun hal yang diterima, tentu sajamengandung makna positif dan hikmah yang bisa diambil, sekaligus sebagai bahan belajar termahal yaitu “pengalaman”.

Mungkin Anda memiliki sebuah teko atau botol besar penampung air minum di rumah. Saat teko dalam keadaan penuh, ia sudah tidak bisa diisi kembali. Namun saat air sudah dituangkan, maka teko bisa disi kembali.

Lalu, pada saat air dari teko dituangkan, sudah terjadi udara sebagai pengganti dengan volume yang sama penambahannya dengan jumlah air yang berkurang. Inilah yang saya maksud dengan “memberi, langsung menerima”! Walau dalam bentuk yang berbeda.

Saat teko kita tuang semua seluruh isi airnya, apakah teko itu menjadi kosong? Tentu tidak! Teko itu masih berisi udara dengan penuh.

Banyak sekali janji Tuhan akan hal itu. Siapa mengabdi padaNya, maka akan dijadikan kekasihNya. Barang siapa meminta kepadaNya, maka akan diberikanNya. Karena hukum yang sangat sempurna itu memang telah dibuatNya. Hal kecil seperti senyuman, air berpindah tempat, dll, merupakan contoh kecil yang bisa dijadikan bahan kajian oleh kita – yang diberikan kemuliaan dengan diberikan akal pikiran untuk mengkajinya. Mari memberi dan siap menerima! Semoga tulisan ini banyak memberikan manfaat dan inspirasi.